Lituros | Puisi adalah bahasa kejujuran, serupa kitab suci yang dibuat oleh manusia. Kita tidak hanya akan membaca kata demi kata, namun kita akan membaca, menelusur, menjelajah makna demi makna. Selamat membaca...
Sendiri
Aku termangu di bawah awan hitam
Diam, sunyi, tiada seseorang
Kecuali aku, aku dalam bayang kelam
Mengenang kisah silam semakin merajam
Diam, sunyi, tiada seseorang
Kecuali aku, aku dalam bayang kelam
Mengenang kisah silam semakin merajam
Rintik malam kian mendinginkan bumi
Bersama jiwa pengundang sepi
Rembulan pun bersembunyi
Tiada gemintang menjamu hati
Persis sepertiku, kini sendiri
Bersama jiwa pengundang sepi
Rembulan pun bersembunyi
Tiada gemintang menjamu hati
Persis sepertiku, kini sendiri
Masih Kutemui Bahagia
Menarik
Suguhkan canda
Cipta cerita bergempita
Enyahkan gulana singgahi jiwa
Suguhkan canda
Cipta cerita bergempita
Enyahkan gulana singgahi jiwa
Dalam semunya mengutip waktu
Hamburkan bulir sembilu
Riang bercengkerama
Kita
Hamburkan bulir sembilu
Riang bercengkerama
Kita
Hangat
Senyum tersirat
Usai berjumpa maya
Gemulai rindu masih terjaga
Senyum tersirat
Usai berjumpa maya
Gemulai rindu masih terjaga
Walau siksa sempat menerka
Silam tak berkunjung
Tetap memasung
Cinta
Silam tak berkunjung
Tetap memasung
Cinta
Membungkam, rasaku terkilir, aku tertegun, dalam dekap desauan angin
Membiarkan diri berkabut kesalahan tak dimengerti
Serupa tersesat dalam gumpalan asa yang mengepung, namun tak tahu tebing curam menjamu, kuterdiam kaku
Membiarkan diri berkabut kesalahan tak dimengerti
Serupa tersesat dalam gumpalan asa yang mengepung, namun tak tahu tebing curam menjamu, kuterdiam kaku
Pada mimpi-mimpi yang tergores di semenawan senja, sejenak kutatap penuh arti
Akankah sejuta darmaku mengarungi hidup kian terpatri, dalam barisan mimpi dengan jalan yang berduri?
Akankah sejuta darmaku mengarungi hidup kian terpatri, dalam barisan mimpi dengan jalan yang berduri?
Hendak kutemui jawaban dalam hati
Masih dengan netra memandang rona-rona jingga semakin memudar
Senyumnya kian luruh, buatku sekejap berpikir
Bukankah masih ada senyum untuk hari esok?
Masih dengan netra memandang rona-rona jingga semakin memudar
Senyumnya kian luruh, buatku sekejap berpikir
Bukankah masih ada senyum untuk hari esok?
Mungkin kini serekah tawa tak menghiasi hari
Namun ada esok ‘kan menegur sapa kembali bersama senja
Hadir menyapa, senyum bersama
Tepiskan segala luka yang tertinggal dalam jiwa
Rerintik
Namun ada esok ‘kan menegur sapa kembali bersama senja
Hadir menyapa, senyum bersama
Tepiskan segala luka yang tertinggal dalam jiwa
Rerintik
Menatap rintik; tersemat sebuah melodi berdinamika rindu dalam dentingnya menapaki palka berdebu
Menelisik pusara hitam kian melirik pelupuk sendu paling temaram
Tertadah tanya pada bayang berkawan senandung kelam
Akankah pertemuan di balik titik hujan kelak bersemayam, wahai Adam?
Menelisik pusara hitam kian melirik pelupuk sendu paling temaram
Tertadah tanya pada bayang berkawan senandung kelam
Akankah pertemuan di balik titik hujan kelak bersemayam, wahai Adam?
Rerintik yang khas itu kembali mengiringi seperanggu rasaku menjamah waktu
Menggilir seisi kapita dalam angin yang memeluk patera
Melambai kibaskan silam enggan berpaling dari titik temu, kian menghujam dalam pelipur paling sembilu; rindu
Menggilir seisi kapita dalam angin yang memeluk patera
Melambai kibaskan silam enggan berpaling dari titik temu, kian menghujam dalam pelipur paling sembilu; rindu
Anggrek Putih
Putik meliuk menguning apik
Berhias mahkota sambut mayapada
Pada ceruk tangkai melunak
Ingin kutelusuri setiap jengkalnya
Berhias mahkota sambut mayapada
Pada ceruk tangkai melunak
Ingin kutelusuri setiap jengkalnya
Pesonanya melebur undang netra
Tetap memutih berada hiasi persada
Cantik kelopak menyeruak
Memikat jiwa berisi leluka
Tetap memutih berada hiasi persada
Cantik kelopak menyeruak
Memikat jiwa berisi leluka
Rebah jasmani hirup mewangi
Hempas selembar pilu menyilet kalbu
Bersama lebah kumbang dan kupukupu
Bersemayam rekahkan senyum hapus kelam
Hempas selembar pilu menyilet kalbu
Bersama lebah kumbang dan kupukupu
Bersemayam rekahkan senyum hapus kelam
Anggrek putih
Laksana singgasana penghilang lara
Tempat bersandar tenangkan diri
Indah menatap, kibaskan sembilu menggunyam hati
Derita Sang Buah Hati
Laksana singgasana penghilang lara
Tempat bersandar tenangkan diri
Indah menatap, kibaskan sembilu menggunyam hati
Derita Sang Buah Hati
Di balik lilitan manisnya hidup
Tersibaklah selembar kelam kisah
Nyanyian riang anakanak di tepi jalan
Pecahkan riuhnya para pengendara
Tersibaklah selembar kelam kisah
Nyanyian riang anakanak di tepi jalan
Pecahkan riuhnya para pengendara
Lihatlah!
Senyumnya selalu merekah
Sambut insan dermawan hendak penuhi kantong lusuhnya
Mata memandang seolah tak peduli
Terkadang tegur sapanya terabaikan
Senyumnya selalu merekah
Sambut insan dermawan hendak penuhi kantong lusuhnya
Mata memandang seolah tak peduli
Terkadang tegur sapanya terabaikan
Cobalah renungkan!
Kita, makan enak tersaji
Untaian kain apik melindungi
Lelapkan raga terbungkus selimut tebal
Namun mereka, asa menggantung tak tentu
Tiada hasil perut pun kosong
Lusuhnya tampilan bercampur dingin
Kita, makan enak tersaji
Untaian kain apik melindungi
Lelapkan raga terbungkus selimut tebal
Namun mereka, asa menggantung tak tentu
Tiada hasil perut pun kosong
Lusuhnya tampilan bercampur dingin
Hati menggerutu!
Dimana kasih sepasang cinta melahirkannnya?
Akal menyiratkan sekumpulan sebab
Pecahnya keluarga faktor utama
Korbankan wajahwajah tak berdosa
Dimana kasih sepasang cinta melahirkannnya?
Akal menyiratkan sekumpulan sebab
Pecahnya keluarga faktor utama
Korbankan wajahwajah tak berdosa
Sungguh memprihatinkan
Masa depan bak telur di ujung tanduk
Rekah tawanya bagai topeng
Menutupi hati nan duka tersiram luka
Dan pada Tuhan, mereka merajuk pasrah
Masa depan bak telur di ujung tanduk
Rekah tawanya bagai topeng
Menutupi hati nan duka tersiram luka
Dan pada Tuhan, mereka merajuk pasrah
Tentang Penulis
Thalia Aru, perempuan kelahiran 01 September 1999 di Jakarta ini, belum lama menekuni dunia kepenulisan. Tetapi karya-karyanya sudah meledak.

0 Response to "Puisi-Puisi Perasaan Hati dari Thalia Aru"
Post a Comment