![]() |
| lituros.com |
A. Sejarah Singkat Masjid Al-Azhar
1. Dinasti Fathimiyah (361-567 H/ 9 72-1171 M)
Masjid Al-Azhar merupakan masjid keempat yang didirikan di Mesir setelah sebelumnya berdiri Masjid Amr bin Ash (20 H/641 M), Masjid al-‘Askar (169 H/785 M) dan Masjid Bin Thoulun (265 H/878-879 M). Masjid yang pertama adalah simbol pemerintahan Dinasti Umayah, Masjid kedua simbol Dinasti Abbasiyah dan Masjid ketiga adalah Simbol Dinasti Tholouniyah. Dari ketiganya, Masjid al-‘Askar tidak ada lagi bekasnya, Masjid Amr bin Ash sampai sekarang masih berdiri meski bangunan renovasinya dan Masjid Bin Thoulun masih memperlihatkan keasliannya sampai sekarang.
Pembangunan Masjid Al-Azhar dimulai beberapa bulan setelah Panglima Dinasti Fathimiyah yang bernama Jauhar as-Shiqili (berasal dari Sicilia, Italia) menginjakkan kaki di Mesir. Jauhar masuk ke Mesir pada 17 Sya’ban 358 H bertepatan dengan 6 Juli 969 M. Dia mengusir penguasa Mesir sebelumnya, Dinasti Thouluniyah yang memerintah Mesir hanya selama 38 tahun. Tempat yang dipilih untuk pembangunan adalah daerah di sebelah utara Fusthath yang oleh as-Shiqili dinamakan al-Manshuriyah. Kota al-Manshuriyah nantinya berubah nama menjadi al-Qahirah (Kairo) setelah Sultan Fathimi al-Mu’iz Lidinillah memindahkan pusat pemerintahan dari Maghrib ke tempat baru yang lebih strategis. Dengan harapan agar kota ini menjadi yang terdepan dalam segala bidang dan dapat menghegemoni kawasan-kawasan yang lain maka kota ini dinamakannya al-Qahirah (Kairo). Tanggal pembangunannya adalah 24 Jumadil Ula 359 H bertepatan 7 Mei 970 M dan selesai pada 7 Ramadhan 361 H atau 23 Juni 972 M.
Masjid dengan dua bagian utama; bagian beratap yang dinamakan maqshurah dan bagian tanpa atap dengan nama Shuhn ini resmi dibuka untuk umum dengan pelaksanaan shalat Jumat sebagai rangkaian seremonial. Setelah resmi dibuka dan ditetapkan sebagai masjid resmi negara, yakni ditandai dengan pelaksanaan shalat Idul Fitri oleh Sultan Mu’iz Lidinillah pada tahun yang sama, Masjid ini dijadikan pusat penyebaran paham Syiah Ismailiyah sebagai Madzhab resmi Negara. Beberapa ruwak diaktifkan untuk mengaji. Penyemarak ruwak (masyayikh dan pelajar) diberi jaminan kesejahteraan demi langgengnya misi mereka.
Alokasi dana yang disediakan oleh pemerintah dapat dikatakan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Wakaf dan sumbangan datang dari para dermawan dan pejabat. Dana yang begitu besar tersebut dikelola secara profesional oleh ahlinya. Di antaranya adalah Ibnu Killis dan Jauhar as-Shiqilli, “pembantu” setia Dinasti Fathimiyah dari Sicilia, pulau dekat Italia yang setia mengabdi sampai wafat pada 1 Februari 992 M.
Pengajian pertama yang digelar di Masjid Al-Azhar adalah pengajian yang disampaikan oleh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin an-Nu’man al-Qairuwani pada bulan Shafar 365 H atau November 975 M, sekitar setahun setelah dibuka secara resmi. Setelah Jauhar as-Shiqili dijauhkan dari hiruk pikuk pemerintahan, manajemen Masjid Al-Azhar dipegang oleh Yakub bin Killis (991 M). Pada saat itu pengajian semakin semarak dan kehidupan pelajar di dalamnya semakin sejahtera. Ibnu Killis yang mantan Yahudi itu berhasil mengelola administrasi dan pemasukan Masjid dengan sangat baik. Buahnya, pelajar semakin betah untuk belajar bahkan pihak masjid juga membuka kelas untuk kaum hawa.
Kesemarakan Al-Azhar selama tiga puluh lima tahun terhenti ketika pemerintah yang berkuasa mendirikan Dar al-Hikmah sebagai institusi pendidikan kedua setelah Al-Azhar. Keduanya sama-sama mendapatkan subsidi dari pemerintah. Hanya saja pada institusi yang kedua materi yang diajarkan lebih bervariatif. Bukan hanya materi-materi Syiah yang diajarkan melainkan pengajaran Madzhab Sunni, filsafat, tafsir, hadits dan lainnya. Tujuannya juga kental dengan tujuan politik. Dengan berdirinya Dar al-Hikmah peran Al-Azhar agak sedikit berkurang dan pengaruhnya lebih berkurang lagi ketika al-Hakim bi Amrillah lima tahun setelahnya memindah masjid pemerintah ke Masjid baru yang didirikan oleh-Nya dan kemudian diberi nama Masjid al-Hakim bi Amrillah. Masjid ini sekarang masih berdiri. Letaknya dekat dengan Bab al-Futuh, Kairo.
2. Dinasti Ayyubiyah (567-648 H/1171-1250 M)
Shalahudin al-Ayubi menguasai Mesir tahun 567 H/1171 M. Mulai saat itu Al-Azhar resmi tidak boleh digunakan untuk shalat Jumat dan kegiatan lain. Shalat Jumat dipindah ke Masjid Bin Thoulun dan kegiatan yang berkaitan dengan keilmuan dipindah ke madrasah-madrasah yang didirikan oleh pemerintah, jumlah madrasah pada saat itu menurut al-Maqrizi sampai bilangan delapan belas. Kebijakan itu diambil oleh Shalahudin dengan tujuan agar pengaruh Syiah Ismailiyah hilang dari bumi Mesir. Madzhab resmi yang digunakan oleh Dinasti Ayyubiyah adalah Madzhab Syafi’i. Dengan dalih tidak boleh mendirikan dua shalat Jumat dalam satu balad sebagaimana dalam Madzhab syafi’i, kebijakan Shalahudin mendapat legalitas dari mufti di masanya.
Penutupan Masjid Al-Azhar dari kegiatan keilmuan menjadikan pemerintah harus mendirikan sekolah baru demi membangkitkan Madzhab Sunni yang kembang kempis semenjak Dinasti Fathimiyah memerintah Mesir. Madrasah pertama didirikan di Fusthath dengan nama Madrasah an-Nashiriyah. Madrasah ini diperuntukkan bagi pelajar yang bermadzhab Syafi’i. Madrasah kedua berdiri di dekat madrasah pertama dengan nama Madrasah Qamhiyah. Diperuntukkan untuk pelajar bermadzhab Maliki. Dinamakan dengan Qamhiyah (gandum) karena guru, staf dan murid diberi gandum untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Madrasah ketiga bernama Madrasah as-Suyufiyah yang diperuntukkan bagi penganut Madzhab Hanafi. Madrasah keempat berdiri di dekat makam Imam Syafi’i dan diberi nama Madrasah an-Nashiriyah as-Shalahiyah yang dikhususkan untuk mengajarkan Madzhab Syafi’i. Salah satu syarat menjadi direktur (masyikhah) di madrasah ini adalah ulama yang paling alim dalam Madzhab Syafi’i di zamannya. Salah satu ulama yang pernah menduduki kursi masyikhah adalah Syekhul Islam Zakaria al-Anshari.
Pada era ini, terdapat beberapa ulama mancanegara yang berkenan menyebarkan ilmu yang mereka punya kepada peminat ilmu di Mesir. Di antaranya adalah Musa bin Maimun, dokter pribadi Shalahudin al-Ayyubi yang mengajarkan ilmu medis, astronomi dan bidang eksakta. Tercatat juga nama Abdul Latif al-Baghdadi yang datang di Mesir pada tahun 589 H/1193 M yang mengajarkan ilmu teologi, ilmu bayan dan ilmu logika. Beliau menyebarkan ilmunya selama lima tahun lebih (sampai tahun 1198 M).
3. Dinasti Mamalik (648-922 H/ 1250-1517 M)
Pada tahun 665 H, setelah 17 tahun setelah Dinasti Mamluk menguasai Mesir, Al-Azhar baru dibuka kembali untuk shalat jumat dan kegiatan lainnya. Jum’at, 18 Rabiul Awal 665 H bertepatan 17 Desember 1267 H adalah hari pembukaannya. Jadi, penutupan Al-Azhar berlangsung selama 98 tahun dengan rincian selama Dinasti Ayyubiyah memerintah ditambah dengan tujuh belas tahun awal pemerintahan Dinasti Mamluk. Saat itu yang memerintah bernama Sultan Ruknudin Zhahir Baybars I.
Era ini adalah era keemasan Al-Azhar. Berkah dari runtuhnya dinasti Abbasiyah di Baghdad (656 H) dan runtuhnya Cordoba di Spanyol menjadikan Mesir sebagai tempat bermigrasi para ulama dari kedua pusat keilmuan tersebut. Di saat yang bersamaan pemerintah memberi subsidi penuh untuk kegiatan ilmiah di Al-Azhar dan madrasah-madrasah yang lain. Pintu Al-Azhar juga terbuka untuk siapa saja. Pendukung lain adalah pemerintah tetap menggunakan Madzhab Syafi’i dalam bidang furu’ dan Ahlussunnah (Asy’ari & Maturidi) dalam bidang aqidah sebagai Madzhab resmi pemerintah. Penetapan Madzhab Syafi’i dalam bidang furu’ dan Madzhab Asy’ari & Maturidi sebagai Madzhab resmi merupakan kelanjutan dari dinasti sebelumnya. Toh, konstelasi politik yang seringkali carut marut dalam era ini tidak mempengaruhi kesibukan para ulama Al-Azhar untuk berkarya dan berjihad dalam bidang ilmu.
Al-Azhar mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan areal. Tiga madrasah tambahan didirikan di dekat Masjid; Madrasah Thibrisiyah, Madrasah al-Aqbughawiyah dan Madrasah al-Jauhariyah (ketiganya sekarang masuk dalam area masjid). Keberadaannya ikut meramaikan pengajian di Al-Azhar. Sultan Qaitbay tercatat sebagai pejabat yang sangat memperhatikan bangunan fisik Al-Azhar. Iklim keilmuan yang kondusif menjadikan Al-Azhar sebagai tempat yang sangat produktif melahirkan ulama besar dengan ribuan karya.
Selama dua setengah abad Mesir di bawah pemerintahan Dinasti Mamluk, Al-Azhar menjadi menara keilmuan. Banyak tokoh besar lahir dalam masa ini, tidak ketinggalan pula warisan keilmuan yang ditinggalkan oleh rahim Al-Azhar. Dari peninggalan masa keemasan ini pula hubungan Al-Azhar dengan pesantren dapat dilihat secara kasat mata. Karya dari ulama-ulama Al-Azhar kurun ini sampai sekarang dijadikan kurikulum pesantren. Tengok saja seperti karya dari murid-murid Abu Hayan seperti Jurumiyah, Alfiyah dengan Ibnu Akil dan al-Asymuni sebagai syarah, karangan dari Jalaludin al-Mahalli (864 H) karangan dari Jalaludin as-Suyuthi (911 H), karangan dari Ibnu Hajar al-‘Asqalani (853 H), karangan dari Syekhul Islam Zakaria al-Anshari (926 H) dan seterusnya. Pada tahun 818 M jumlah santri Al-Azhar mencapai 750 orang baik berasal dari Mesir ataupun dari luar seperti daerah Maghrib dan Zaila’.
Peristiwa penting yang terjadi di era ini di antaranya: 1). Ibnu Khaldun memberikan pengajian di Masjid Al-Azhar (784 H), 2). Setiap Ramadhan diadakan pengajian Shahih Bukhari dengan acara khataman yang sangat meriah, 3). Pemberdayaan ruwak sebagai tempat mengaji dan asrama santri, 4). Pemberian ijazah (lisensi) dengan tiga kategori; ijazah (lisensi) untuk berfatwa dan mengajar, Ijazah yang diberikan setelah menyetorkan hafalan atau mengaji dan permintaan ijazah kepada ulama Azhar yang diberikan kepada orang-orang yang jauh dari Al-Azhar dan dirinya punya kapasitas keilmuan yang memadai untuk diberi ijazah, 5). Peran besar dari Al-Azhar dan ulamanya dalam memecahkan masalah-masalah besar seperti ketika terjadi tha’un, banjir besar dan paceklik.
4. Dinasti Utsmaniyah (923-1213 H/1517-1798 M)
Perubahan paling kentara yang dialami Al-Azhar pada masa Dinasti Utsmaniyah adalah diberlakukannya jabatan Syekhul Azhar dengan Syekh Muhammad al-Kharasyi al-Maliki (1101 H/1690 M) sebagai Syekhul Azhar pertama. Hal lainnya adalah adanya eksodus besar-besaran Ulama Al-Azhar pada tiga tahun pertama Dinasti Utsmani ke Turki sehingga menyisakan kesepian di Masjid. Kegiatan ilmiah seakan lumpuh total.
Dinasti Utsmani yang memposisikan dirinya sebagai kaum ningrat dan tidak ambil pusing dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Azhar menjadikan Al-Azhar semakin mendapat tempat di hati rakyat. Secara finansial Al-Azhar juga semakin mandiri. Untuk pengurusan harta wakaf milik Al-Azhar, dibentuklah pengawas (nadzir) yang berfungsi mengelola dan mendistribusikan kepada pihak-pihak yang berhak. Kemandirian dalam bidang finansial menjadi berkah tersendiri bagi Al-Azhar. Karena dengannya Al-Azhar dapat menjadi oposan pemerintah Utsmani. Pada medio ini sering terjadi kritik-kritik membangun dari ulama Al-Azhar.
Dinasti Utsmani menjadikan Bahasa Turki sebagai bahasa resmi. Hal ini mendorong ulama Al-Azhar untuk melestarikan Bahasa Arab dan peninggalan turatsnya. Langkah yang diambil adalah tetap menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dalam setiap pengajian. Pihak pemerintah juga tidak keberatan. Sikap mereka yang terkesan cuek sebenarnya salah satu dari rasa takzim Dinasti Utsmani terhadap Al-Azhar. Sebab, mereka mengakui bahwa Al-Azhar adalah benteng Sunni dan penerus fiqih empat Madzhab yang juga dianut oleh Dinasti Utsmani. Manhaj keduanya bersesuaian walau dalam bidang furu’ pemerintah menjadikan Madzhab Hanafi sebagai Madzhab resmi. Dari sini tampak peran Al-Azhar sangat vital sebagai penjaga khazanah dan ilmu keislaman.
Ilmu yang diajarkan dalam era ini tidak melulu pada kajian agama saja melainkan merambah juga ilmu eksakta, sejarah, logika, filsafat dan medis. Bahkan, lulusan-lulusan medis Al-Azhar mendapat tempat di rumah sakit pemerintah yang dinamakan dengan Dâr as-Syifâ al-Manshûri. Ilmu-ilmu itu diajarkan secara kontinyu di Al-Azhar sampai akhirnya mati suri pada akhir abad kedua belas hijriyah atau abad delapan belas masehi dan seterusnya ditiadakan sampai munculnya era Jamaludin al-Afghani (1288 H/ 1871 M).
Tokoh agama yang lahir pada masa ini secara umum adalah murid-murid Syekhul Islam Zakaria al-Anshari seperti Syihabudin dan Syamsudin ar-Ramli, Ibnu Hajar al-Haitami, Khathib Syirbini, Abdul Wahab as-Sya’rani sampai pada Abu al-Barakat Syekh Dardir (1201 H). ulama-ulama yang lahir dalam era ini juga karyanya banyak dipelajari di pesantren hingga sekarang.
5.Penjajahan Perancis
Rentang waktu antara 1798–1802 merupakan masa yang sangat kelam bagi Al-Azhar. Ulama Al-Azhar diburu kemudian disembelih setiap hari. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya minimal lima orang setiap harinya. Hal tersebut menyebabkan Al-Azhar mati suri. Banyak ulama yang melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa. Di antaranya adalah Syekh Ibrahim al-Bajuri ketika masih menjadi santri dan Syekh Hasan al-‘Atthar menurut satu pendapat. Era ini juga mencerminkan peran kenegaraan dari ulama-ulama Al-Azhar. Beberapa pemberontakan terjadi dengan tokoh penggeraknya adalah ulama-ulama Al-Azhar.
6. Daerah Otonom (1220 H/1805-1930 M)
Pada tahun 1801-1805 M. merupakan masa-masa chaos dalam perpolitikan Mesir. Chaos politik ini menyebabkan revolusi yang dipelopori oleh ulama-ulama Al-Azhar pada tahun 1805 M. Salah satu pemimpinnya adalah Umar Makram. Hal ini masih berlanjut hingga tahun 1817 M walaupun pada tahun 1805 M. Muhammad Ali Pasha diserahi tugas untuk menyelesaikan chaos dan masalah-masalah lain. Al-Azhar mulai aktif pada Oktober 1817 M. dengan ditandai pembacaan kitab Shahih Bukhari. Pembacaan Shahih Bukhari oleh ulama dan santri ditujukan untuk kemenangan Ibrahim Pasha yang kala itu sedang menghadapi tentara Wahabi di Dir’iyah. Berkah Shahih Bukhari, kabar kemenangan terdengar pada 27 Desember 1817 M.
Pada masa ini Al-Azhar mendapat saingan dari institusi-institusi lain yang didirikan oleh Muhammad Ali Pasha. Sekolah yang didirikan Muhammad Ali Pasha tersebut memakai sistem modern Barat. Kurikulum yang dipakai juga mengedepankan sains dan ilmu kekinian. Di samping itu berdiri juga sekolah-sekolah yang didirikan oleh bangsa Barat. Sekolah tadi didirikan dengan tujuan untuk kristenisasi.
Hal baik setelah terjadi persaingan dan penutupan adalah dikirimkannya duta-duta Al-Azhar ke Sorbonne untuk mempelajari hal-hal kekinian. Hasilnya, setelah mereka pulang terjadi perubahan dalam kurikulum. Tidak hanya pengetahuan agama saja yang diajarkan. Tapi mencakup ilmu-ilmu yang dijadikan tangga menuju kemajuan. Sejatinya, ilmu sains, kedokteran, kimia, aljabar dan lain-lain sudah diajarkan sejak Dinasti Fathimiyah. Ulama-ulama Sunni setelah era Fathimiyah berakhir masih terus melestarikannya. Kita dapat menelusuri semisal kepada Syekhul Islam Zakaria al-Anshari yang alim di semua bidang ilmu agama dan mahir juga dalam bidang arsitektur. Begitu juga dengan Imam Suyuthi, Syekhul Azhar Ahmad ad-Dammanhuri dan imam-imam yang lain. Dalam era otonom ini kita kenal juga Syekhul Azhar, Syekh Hasan al-‘Atthar yang sangat mahir dalam bidang kedokteran. Syekh Hasan al-‘Atthar juga menyaratkan adanya pembaharuan kurikulum sebelum beliau diangkat jadi Syekhul Azhar. Walhasil, duta-duta Al-Azhar dikirim untuk belajar dari barat bagaimana mereka melepaskan diri dari masa kegelapan menuju renaisans.
Geliat pembaharuan dirasakan ketika Rifaah at-Thahthawi, murid dari Syekh Hasan al-Athar sekembalinya dari Sorbonne dengan membawa oleh-oleh yang dirasa baru bagi santri-santri Al-Azhar. Hal ini berlanjut sampai dengan Muhammad Abduh mencanangkan Al-Azhar menuju Universitas modern.
Akhirnya, tahun 1930 M Al-Azhar resmi mendirikan universitas. Pada era tersebut sudah ada gelar Syahadah ‘Alamiyah yang bisa didapatkan dengan cara santri diuji dalam semua cabang ilmu agama oleh seorang syekh.
Ruwak sebagai tempat belajar dan tempat santri berdomisili resmi dibubarkan dengan keputusan pemerintah pada bulan November 1954 M. Sejak saat itu ruwak hanya digunakan untuk tempat belajar. Sedang untuk tempat tinggal didirikan sebuah gedung yang sekarang terkenal dengan nama Madinah al-Bu’uts. Pengajian di Masjid Al-Azhar sempat vakum untuk beberapa lama hingga dibuka kembali oleh Syekh Ali Jum’ah pada tahun 1990-an hingga sampai sekarang pengajian di ruwak ramai oleh santri.
Tokoh-tokoh yang hidup dalam masa otonom dan era Al-Azhar modern dan karyanya familiar di tanah air seperti Syekh Shabban, Syekh Hasan al-Atthar, Syekh al-Fadhali, Syekh Ibrahim al-Bajuri, Syekh Muhammad al-Inbabi, Sayyid Muhammad al-Maliki, Syekh Sa’id Ramadhan al-Buthi, Syekh Ali Jum’ah dan lain-lain.
diambil dari buku Sanad Ulama Nusantara, Sahifa, 2018

0 Response to "RELASI AL-AZHAR DAN PESANTREN"
Post a Comment