Tafsir Al-Ibriz Diralat Pengarangnya Sesaat Setelah Wafat

Foto: Istimewa


Lituros | KH. Bisri Mustofa dikenal sebagai seorang kiai pengarang yang menulis beberapa buah kitab, khususnya dalam Bahasa Jawa, di antaranya (yang cukup terkenal) adalah Tafsîr al-Ibrîz. Selain dikenal sebagai seorang kiai penulis, pengasuh Pondok Pesantren Leteh Rembang ini juga dikenal sebagai seorang orator dan politikus.

Sepeninggal KH. Bisri, KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus (puteranya) mengaku mengalami suatu kejadian menarik yang sulit diterima akal pada umumnya.

Diceritakan, Gus Mus kedatangan seorang tamu dari Cirebon (nama tidak dicatat) yang menyampaikan pesan KH. Bisri kepada dirinya.

“Anda Gus Mus?” tanya tamu dari Cirebon itu.

“Ya, saya Mustofa,” jawab Gus Mus.

Orang itu kemudian menyampaikan pesan yang baru saja diterimanya dari KH. Bisri Mustofa menyangkut karya besar dia, Tafsîr al-Ibrîz.

“Kiai Bisri berpesan agar Anda mengoreksi surat al-Fath karena di situ ada sedikit kesalahan.”

“Kapan Anda ketemu dia?”

“Kemarin, di Cirebon.”

Ketika Gus Mus memberi tahu bahwa KH. Bisri telah wafat hampir 40 hari yang lalu, orang itu sangat terkejut dan lemas.

Setelah itu, Gus Mus segera datang ke Kudus, mengunjungi KH. Abu Amar dan KH. Arwani yang dipercaya Penerbit Menara Kudus sebagai pen-tashhîh (korektor). Kabar yang disampaikan orang dari Cirebon itu benar: ternyata, dalam surat al-Fath terdapat satu kesalahan (kecil) yang lolos dalam beberapa kali (koreksi). Dalam ayat ke-18 yang seharusnya berbunyi laqad radhiyallâhu ‘anil mu’minîna …, tertulis laqad radhiyallâhu ‘alal mu’minîna …

Pengalaman yang sama juga dialami Gus Mus. Bedanya, yang kedua ini—yang juga dari Cirebon—datang untuk menyampaikan pesan KH. Bisri agar dirinya melanjutkan karya dia yang belum sempat diselesaikan.

“Anda ketemu sendiri?” tanya Gus Mus.

“Ya, saya ketemu sendiri di Cirebon,” tutur orang itu kepada Gus Mus. Keterkejutan yang sama juga dialami orang itu manakala diberi penjelasan bahwa KH. Bisri Mustofa sudah wafat.

Pengalaman aneh di atas seakan mempertegas kebenaran firman Allah: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan, mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran [3]: 169) “Di jalan Allah” bukan berarti harus berperang. Sebaliknya, menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam juga masuk dalam kategori itu.

Oleh: Rizal Mumazziq

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tafsir Al-Ibriz Diralat Pengarangnya Sesaat Setelah Wafat"

Post a Comment