![]() |
| Foto: Istimewa |
Lituros | Mungkin di antara kita sudah tidak asing dengan firman Allah ini:
ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَومَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu (Kiamat) tentang kenikmatan.
Dalam tafsir al-Kasyfu wa al-Bayan, imam al-Tsa’labi (w. 427 H.) mengemukakan riwayat tentang tafsir kata al-nai’iim (النَّعِيمِ) dari seorang mufassir yang bernama Hasan bin al-Fadhl (w. 282 H.).
Imam al-Mawardi (w. 450 H.) menyebutnya al-Hasan tanpa bin al-Fadhl sehingga sepintas menunjuk kepada imam al-Hasan al-Bashri. Sementara imam al-Dzahabi (w. 748 H.) dalam al-Siyar menyebutnya dengan nama Husain bin al-Fadhl.
Imam al-Hasan mengelaborasi makna al-na’iim sedekat mungkin dengan yang ditunjukan Al-Quran melalui ayat-ayatnya yang lain. Menurutnya di antara al-na’iim yang akan didatanyakan pada hari Kiamat, bahkan menjadi pertanyaan inti, adalah “dimudahkannya Al-Quran.”
Ini sesuai dengan surah al-Zukhruf ayat 44:
وَ إِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَومِكَ وَسَوفَ تُسْئَلُونَ
Dan sesungguhnya (Al-Quran itu) benar-benar dzikir (peringatan) bagimu dan bagi kaummu, dan kamu semua akan ditanya (tentangnya)
Allah Swt telah memudahkan Al-Quran. Bahkan dinyatakan dengan kalimat yang menyimpan sumpah. Lalu diulang sampai empat kali dalam surah yang sama (QS al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40). Ini menandakan sangatlah serius dan merupakan nikmat yang paling besar bagi manusia.
Yang dimaksud dimudahkan adalah dimudahkan lafazhnya untuk dibaca dan dihafalkan, dimudahkan maknanya untuk difahami, dan dimudahkan kandungannya untuk diamalkan. Keempat ayat tentang dimudahkannya Al-Quran ditutup dengan pertanyaan:
فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
...Maka adakah yang mengambilnya sebagai pelajaran (dengan membaca, menghafal, memahami dan menerapkannnya)
Yang menjawab dan merespon pertanyaan di atas saat di dunia dengan berusaha membaca, menghafal, memahami, dan menerapkan Al-Quran tentunya akan berhasil lolos dari pertanyaan tentang al-na’iim pada hari Kiamat.
Kalau ujian di akhirat saja bisa dilalui dengan mudahnya maka apalagi ujian di dunia. Tentu Al-Quran yang diperjuangkannya akan meninggikan derajatnya setinggi-tingginya di dunia dan di akhirat.
Sebaliknya. Orang yang saat di dunia lalai dari Al-Quran dan malah sibuk bergelut di arena al-takatsur (bermegah-megahan) dengan kesenangan dunia maka pertanyaan tentang al-na’im pada hari Kiamat akan menjadi saat-saat tersulit dan mengerikan dalam proses hisab yang akan dilaluinya.
Bisa dibanyangkan bagaimana menderitanya orang yang datang pada hari itu tanpa membawa satu ayat pun. Celaka sungguh celaka ketika Allah bertanya padanya: “Mana Quranmu?” Apa yang hendak dijawabnya.
Lalu semua fasilitas hidup yang pernah diberikan sebagai na’iim kepadanya saat di dunia ditanyakan begitu detail dan menyulitkan sampai kepada hal-hal yang sangat kecil dan terabaikan. Bahkan seteguk air segar yang pernah diminumnya di suatu siang pun ditanyakan.

0 Response to "Ketika Allah Menanyakan Al-Qur'anmu"
Post a Comment